Kirun, Pelawak Legendaris Era 90-an

Kirun, Pelawak Legendaris Era 90-an

Kirun, Pelawak Legendaris Era 90-an

Kampunglucu.com – Kirun dengan nama lengkap Haji Mohamad Syakirun merupakan salah satu pelawak Indonesia asal Madiun yang pernah berjaya pada era 90-an bersama dengan grup lawaknya yang dikenal dengan sebutan Kirun CS yang beranggotakan Kirun, Kholik dan Bagio dimana Kirun sebagai pimpinannya.

Kirun naik daun pada saat itu berkat salah satu program di TVRI bernama Depot Jamu Kirun yang pertama kali ditayangkan tanggal 1 Mei 1993 oleh TVRI Surabaya. Disini ia dipasang sebagai pemilik warung jamu yang berdialog dalam gaya Mataram dan didampingi dua pegawainya yaitu Bagio yang juga bergaya Mataram dan Kholik yang bertutur dalam dialek Jawa Timur dengan ceplas-ceplosnya yang khas.

Melalui ketiga pelawak itu, pesan-pesan disuarakan dalam kemasan humor ‘wong cilik’ yang segar, tanpa beban bahwa pesan itu harus sampai. Tidak hanya itu, ketiganya juga dapat berganti peran menjadi ‘seseorang’ untuk mengangkat permasalahan tertentu. Biasanya titik pusat masalah ada di Bagio, celetukan spontannya menggugah rasa humor penontonnya.

Jangan pernah meremehkan profesi pelawak. Itulah setidaknya pesan yang disampaikan pelawak sekaligus budayawan ini. “Ya, soal tampang bolehlah kalah dengan sejumlah profesi yang memang mengandalkan ragawi, tapi kalau ditanya penghasilan, sepertinya tak jauh-jauh amat.”

Kirun sebelum terjun ke dunia lawak adalah pemain ludruk dan juga menekuni dunia ketoprak. Ia adalah pemain lintas batas. Kirun merasa bahwa dialah pelopor pertama masuknya lawak dalam pertunjukan wayang kulit. Ia banyak digunakan oleh dalang-dalang besar seperti Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, Ki Manteb Soedarsono, Ki Enthus Susmono untuk menyajikan banyolan pada sesigara-gara dan limbukan.

Kirun kini mulai menolak ajakan untuk melawak di pertunjukan wayang kulit, kecuali dengan kesekuensi yang berdasar atas kesepakatan tertentu terlebih dahulu. Ia sadar, tentu saja penghasilannya akan berkurang. Tapi baginya, uang bisa dicari, tapi tidak dengan ketentraman jiwa.


ARTIKEL TERKAIT