Nurbuat, Salah Satu Pelawak Srimulat

Nurbuat, Salah Satu Pelawak Srimulat

Nurbuat, Salah Satu Pelawak Srimulat

KampungLucu.com – Nurbuat, Pelawak yang lahir di Malang, Jawa Timur, 1 April 1949 ini merupakan seniman lawak spontan yang mendapat pengetahuan lawak secara otodidak di tengah-tengah masyarakat kecil. Nurbuat mulai tertarik masuk grup kesenian pada tahun 1970 di Malang, bergabung dengan grup kesenian yang bernama Anoraga. Awalnya hanya sebagai figuran tetapi setelah setahun ia dipercaya menjadi pemeran utama.

Dari situ pula Nurbuat kemudian pindah ke ludruk Wijaya Kusuma II, sebuah grup yang lebih besar. Baru pada tahun 1982, nurbuat bergabung dengan grup Srimulat. dan dari situlah Nurbuat dikenal dengan logat Madura, bergabung dengan sejumlah pelawak seperti Kadir, Basuki, Nunung, Asmuni, Polo, Rohana, Tarzan, Mamiek, Gogon, Tessy dan lain-lain.

Bersama Srimulat, Nurbuat kerap pentas di beberapa daerah di tanah air. Bersama Srimulat ia juga sering tampil di TVRI dan beberapa stasiun TV swasta di tanah air. Boleh di katakan waktu itu Srimulat merupakan salah satu grup kesenian yang berhasil memikat masyarakat melalui guyonan-guyonan segarnya dan permainan teaterikal yang apik yang di bawakan oleh masing-masing para pemainnya .

Usai bergabung cukup lama di Srimulat, akhirnya Nurbuat memutuskan keluar dari Srimulat. Bersama Kadir, Timbul (alm), Basuki (alm) dan Rohana mantan koleganya di Srimulat, ia membentuk grup Merdeka yang juga tidak bertahan lama. Setelah itu, suami dari Rohana yang juga alumnus dari Srimulat ini sering wara-wiri tampil dalam berbagai acara lawak yang di tayangkan di sejumlah stasiunTV.

Dan pada Juli 2011, Nurbuat bersama istrinya Rohana kembali bermain dalam Musikal Ludrukan ‘Kartolo Mbalelo’ di Graha Bhakti Budaya TIM. Ia dan istrinya, Rohana tertarik ikut bermain karena hampir semua pemain yang terlibat adalah sahabatnya termasuk Kartolo, seniman ludruk yang menjadi pemeran utama. Selain itu, melalui pementasan ini, ia ingin menghidupkan kembali kesenian ludruk yang sudah tertidur.

Menurutnya, ludruk merupakan kesenian tradisional yang telah mengakar dalam jiwa dan kesehariannya. Bila sedang tak ada jadwal syuting atau manggung bapak empat anak yang tinggal di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur ini gemar menghabiskan waktu di ladang burung yang ia bangun pada tahun 2003 yang ia beri nama seperti nama istrinya, Rohana Bird Farm.


ARTIKEL TERKAIT